ByteDance Membatasi Alat Video AI Setelah Ancaman Hak Cipta Hollywood

21

ByteDance, raksasa teknologi Tiongkok di belakang TikTok, menerapkan perlindungan baru untuk generator video bertenaga AI, Seedance 2.0, menyusul gelombang ancaman hukum dari studio-studio besar Hollywood. Alat ini, yang diluncurkan di Tiongkok pada tanggal 12 Februari, dengan cepat menjadi terkenal karena kemampuannya dalam membuat gambar dan video yang sangat realistis berdasarkan perintah teks sederhana – termasuk penggambaran aktor terkenal dan karakter yang dilindungi hak cipta tanpa izin.

Kontroversi: Penggunaan Kekayaan Intelektual Tanpa Izin

Reaksi balik dimulai segera setelah Seedance 2.0 menjadi viral. Kemampuan alat ini untuk menghasilkan deepfake selebriti, seperti Brad Pitt dan Tom Cruise dalam skenario fiksi, langsung menimbulkan masalah hak cipta. Disney, Paramount Skydance, dan perusahaan lain mengirimkan surat penghentian yang menuduh ByteDance melatih AI pada “perpustakaan bajakan” yang berisi materi berhak cipta.

Keluhan ini menuduh bahwa Seedance 2.0 pada dasarnya mendistribusikan karya kreatif sebagai “clip art domain publik”, yang secara langsung melanggar undang-undang kekayaan intelektual. Surat Disney secara khusus menyoroti penggunaan tidak sah karakter dari franchise Star Wars dan Marvel. Ini bukan insiden yang terisolasi: tindakan hukum serupa juga diambil terhadap Character.ai pada tahun 2025 karena pelanggaran hak cipta serupa, dan Disney saat ini sedang mengajukan kasus terhadap Midjourney.

Respons ByteDance dan Tekanan Industri

Menghadapi tekanan hukum yang meningkat, ByteDance mengeluarkan pernyataan pada hari Minggu yang mengakui kekhawatiran tersebut. Perusahaan mengatakan pihaknya “memperkuat perlindungan yang ada saat ini” untuk mencegah penggunaan tidak sah atas kekayaan intelektual dan kemiripan oleh pengguna. Namun, langkah-langkah spesifik ini masih belum jelas. Sebelumnya, ByteDance telah “menjeda kemampuan pengguna untuk mengunggah gambar orang sungguhan”, namun tindakan ini tidak sepenuhnya meredam kemarahan industri.

Perselisihan ini juga meluas ke hak-hak buruh: SAG-AFTRA, serikat pekerja yang mewakili aktor-aktor di layar, mengutuk penggunaan suara dan kemiripan anggotanya secara tidak sah. Serikat pekerja tersebut menuntut “pengembangan AI yang bertanggung jawab,” sebuah tuntutan yang tampaknya tidak mendapat perhatian mengingat perkembangan ByteDance saat ini.

Mengapa Ini Penting: Masa Depan AI dan Hak Cipta

Konflik ini menggarisbawahi tantangan mendasar dalam lanskap AI yang berkembang pesat: bagaimana menyeimbangkan inovasi dengan hak kekayaan intelektual. Model AI seperti Seedance 2.0 dilatih pada kumpulan data yang sangat besar, sering kali menyertakan materi berhak cipta tanpa izin yang jelas.

Hal ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai penggunaan wajar, legalitas pelatihan AI pada karya yang ada, dan potensi pelanggaran hak cipta yang meluas. Ketika konten buatan AI semakin sulit dibedakan dengan karya buatan manusia, perselisihan hukum seperti ini kemungkinan besar akan semakin sering terjadi dan semakin kompleks.

Hasil dari perselisihan ini akan menjadi preseden mengenai bagaimana pengembangan AI diatur – dan apakah perusahaan kreatif dapat secara efektif melindungi kekayaan intelektual mereka di era AI generatif.