Pergeseran Mahkamah Agung Menuju Pertarungan Budaya: Tren yang Berkembang

19

Mahkamah Agung AS sedang mengalami transformasi yang signifikan, dengan semakin fokus pada isu-isu budaya dan politik yang memecah belah dengan tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perubahan ini bukan suatu kebetulan; Hal ini didorong oleh berbagai faktor, termasuk kecenderungan ideologis para hakim, litigasi strategis yang dilakukan oleh kelompok konservatif, dan kebutuhan untuk memperjelas preseden hukum yang semakin kompleks yang ditetapkan oleh mayoritas hakim saat ini.

Dari Badan Teknokratis ke Arena Kebudayaan

Selama beberapa dekade, Mahkamah Agung sebagian besar beroperasi sebagai lembaga yang cukup teknokratis, menangani pertanyaan-pertanyaan hukum yang rumit tanpa terlibat dalam perdebatan budaya yang paling panas. Kasus-kasus terkenal seperti Brown v. Board of Education dan Roe v. Wade memang ada, namun hal tersebut merupakan pengecualian dan bukan aturan. Namun saat ini, dinamika tersebut telah berubah secara dramatis.

Pada masa jabatannya pada tahun 2024-2025 mendatang saja, Pengadilan ini siap untuk memutuskan kasus-kasus yang memiliki implikasi budaya yang luas: berpotensi menghilangkan sisa perlindungan Undang-Undang Hak Pilih, melegitimasi “terapi konversi” secara nasional, dan mengizinkan negara bagian untuk melarang atlet transgender mengikuti olahraga sekolah. Pengadilan juga akan meninjau kembali kekuasaan eksekutif, hak kepemilikan senjata, kewarganegaraan, dan bahkan legalitas tarif mantan Presiden Trump.

Angka Tidak Berbohong: Lonjakan Kasus Budaya

Pergeseran ini dapat diukur. Selama pemerintahan Obama, Pengadilan menyidangkan sekitar 1,5 kasus per masa jabatan yang secara langsung menyentuh isu-isu penting seperti agama, senjata, hak-hak LGBTQ, dan aborsi. Sebaliknya, sejak tahun 2021, dengan 6-3 mayoritas konservatif, jumlah tersebut meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 3,6 kasus per masa jabatan.

Beban kasus yang ditangani Pengadilan secara keseluruhan telah menurun sejak tahun 1980an, yang berarti bahwa kasus-kasus yang bermuatan budaya kini menjadi bagian yang jauh lebih besar dalam pekerjaan Pengadilan. Pada masa jabatannya pada tahun 2024-2025, Mahkamah Agung hanya akan memutuskan 62 kasus dengan penjelasan lengkap dan argumen lisan, namun sebagian besar dari kasus tersebut akan membahas topik-topik yang sangat terpolarisasi.

Mengapa Ini Penting: Litigasi Strategis dan Keselarasan Ideologis

Beberapa faktor menjelaskan tren ini. Pertama, para pengacara konservatif dan kelompok advokasi secara strategis mengajukan tuntutan hukum yang dirancang untuk mengubah lanskap hukum agar sejalan dengan agenda mereka. Kedua, mayoritas Mahkamah yang berhaluan kanan lebih cenderung mendengarkan kasus-kasus ini dan memutuskan dengan cara yang memajukan tujuan kebijakan mereka. Ketiga, keputusan Pengadilan baru-baru ini telah menciptakan ambiguitas hukum baru yang memerlukan klarifikasi, sering kali melalui kasus-kasus tambahan yang bermuatan budaya.

Mahkamah ini secara efektif menghapuskan preseden hukum progresif selama puluhan tahun, mulai dari penghapusan hak aborsi hingga pelarangan tindakan afirmatif dan memperluas kekuasaannya atas lembaga eksekutif. Ini bukan hanya tentang doktrin hukum; ini tentang membentuk kembali masyarakat Amerika dengan cara yang mencerminkan nilai-nilai gerakan konservatif.

Peran Kejelasan dan Keahlian Peradilan

Obsesi Pengadilan terhadap perang budaya juga berasal dari kekurangan Pengadilan itu sendiri. Hakim-hakim yang ada saat ini kurang mahir dalam menyusun peraturan hukum yang jelas dan konsisten, sehingga menyebabkan kebingungan di antara pengadilan-pengadilan yang lebih rendah dan perlunya klarifikasi terus-menerus. Keputusan Bruen mengenai hak Amandemen Kedua adalah contoh utama: ambiguitasnya telah memicu kritik luas dari para hakim di berbagai spektrum politik.

Siklus putusan yang tidak jelas dan proses litigasi yang terjadi selanjutnya semakin memperparah perselisihan budaya, karena Pengadilan terpaksa meninjau kembali dan menyempurnakan keputusan kontroversialnya.

Kesimpulan

Meningkatnya fokus Mahkamah Agung pada politik budaya merupakan sebuah tren yang disengaja dan semakin cepat. Didorong oleh keselarasan ideologi, litigasi strategis, dan dinamika internal Pengadilan, perubahan ini akan terus mengubah hukum dan masyarakat Amerika di tahun-tahun mendatang. Pengadilan tidak lagi menjadi penengah yang netral namun menjadi partisipan aktif dalam konflik budaya yang paling memecah belah di negara ini.