Selama lebih dari dua dekade, ungkapan “robot akan datang” masih menjadi kiasan fiksi ilmiah. Namun pada Consumer Electronics Show (CES) pada tahun 2026, masa depan tersebut terasa nyata. Ini bukan sekadar tahun prototipe yang mencolok; ini adalah momen penting di mana robotika bertransisi dari potensi menjadi kenyataan, didorong oleh terobosan dalam kecerdasan buatan.
Terobosan yang Telah Lama Ditunggu
Pergeseran ini tidak terjadi secara instan. Selama bertahun-tahun, CES memamerkan robot-robot yang hanya sekedar gimmick atau kurang penerapan praktisnya. Sebagian besar debut dengan gembar-gembor, lalu menghilang dalam ketidakjelasan. Namun tahun ini nadanya berbeda. Mulai dari peluncuran humanoid Boston Dynamics Atlas oleh Hyundai hingga penekanan CEO Nvidia Jensen Huang pada “AI fisik”, terjadi perubahan mendasar dalam persepsi.
Rev Lebaredian dari Nvidia menjelaskan masalah intinya: “Kami belum memiliki teknologi untuk membuat otak robot… sampai sekarang.” Konvergensi AI dan robotika telah membuka algoritma yang mampu beroperasi secara efektif di dunia fisik, mengubah kemampuan mesin.
AI Fisik: Perbatasan Berikutnya
Konsep “AI fisik” telah muncul sebagai istilah umum yang mencakup segala hal mulai dari kendaraan otonom hingga robot canggih. Ahmed Sadek dari Qualcomm mendefinisikannya sebagai AI yang tidak hanya memahami lingkungan tetapi juga bertindak di dalamnya. Meskipun mobil self-driving adalah ekspresi besar pertama dari hal ini, memanipulasi objek—bukan sekadar menghindarinya—adalah tantangan berikutnya.
Akselerasi ini disebabkan oleh perangkat lunak yang akhirnya mengejar perangkat keras. Perkembangan kendaraan self-driving menjadi landasannya, dan kini AI memungkinkan robot untuk melakukan tugas-tugas yang semakin kompleks. Nvidia dan Qualcomm, serta startup-startup baru, siap memanfaatkan peluang ini.
Mempercepat Perkembangan: Kebangkitan Humanoid
Humanoid, sebuah perusahaan Inggris yang baru berusia satu tahun, menunjukkan kecepatan era baru ini. Robot HMND 01 mereka dibuat hanya dalam waktu tujuh bulan, memanfaatkan kemajuan AI dan bakat dari perusahaan robotika yang sudah mapan. Dengan 25.000 pesanan di muka dan program percontohan dengan perusahaan-perusahaan Fortune 500, momentum mereka tidak dapat disangkal.
Komersialisasi robot humanoid telah meledak, dengan peningkatan pendapatan sebesar 508% pada tahun 2025 saja, mencapai $440 juta, menurut IDC. Pertumbuhan pesat ini bukan sekedar hype; hal ini didorong oleh investasi nyata dan kelayakan teknis.
Transisi Pabrik-ke-Rumah
CEO Boston Dynamics Robert Playter mengakui hype tersebut tetapi menegaskan bahwa hal itu didasarkan pada kenyataan. Perusahaan sedang bersiap untuk mengerahkan ribuan robot, tidak hanya untuk demonstrasi tetapi juga untuk penggunaan praktis. Namun, fokus awalnya adalah kawasan industri, bukan perumahan.
Playter berpendapat bahwa robot harus menjadi dewasa di lingkungan yang terkendali sebelum memasuki rumah tangga. Keamanan dan biaya merupakan kendala utama: “Perusahaan mengiklankan bahwa mereka ingin langsung beroperasi di rumah… Menurut kami itu adalah strategi yang salah.”
Penerapan nyata pertama kemungkinan besar adalah perawatan lansia dan disabilitas, karena permintaannya tinggi dan masyarakat bersedia membayar mahal. Boston Dynamics memperkirakan potensi pasar tahunan sebesar $20.000 untuk layanan tersebut. Robot pendamping, seperti robot labrador Jennie milik Tombot, juga menjadi produk yang layak.
Dunia dengan Robot: Masa Depan yang Tak Terelakkan
CES 2026 menunjukkan perubahan yang jelas: robot bukan lagi sekedar janji, melainkan kenyataan yang muncul. Konvergensi AI, kemajuan perangkat keras, dan pertumbuhan investasi menunjukkan bahwa mesin-mesin ini akan semakin banyak digunakan. Dekade berikutnya akan menentukan seberapa mulus hal-hal tersebut berintegrasi ke dalam kehidupan kita—pertama di pabrik, dan kemudian di rumah kita.
Era robotika telah tiba, dan CES tahun ini adalah momen yang mustahil untuk diabaikan.
































