Samsung Galaxy Z TriFold: Kesan Pertama dari Dubai

9

Samsung Galaxy Z TriFold, pendatang terbaru di pasar ponsel lipat, telah terjual habis di beberapa wilayah meskipun dibanderol dengan harga $2.900. Skeptisisme awal seputar desainnya telah bergeser setelah pengujian langsung mengungkapkan perangkat yang secara mengejutkan disempurnakan.

Beyond the Hype: Lipat Praktis

Meskipun perangkat lipat sebelumnya terasa seperti kompromi antara daya tahan dan fungsionalitas, Samsung tampaknya telah menemukan titik terbaik dengan Z TriFold. Fungsinya seperti ponsel saku yang dapat dibuka menjadi tablet 10 inci, namun eksekusinyalah yang membedakannya.

Rekayasa Lipat: Dua Engsel, Satu Sasaran

Perangkat ini menggunakan dua engsel dengan ukuran berbeda untuk memungkinkan desain lipat tiga. Engsel kanan berfungsi mirip dengan Galaxy Z Fold 7, sedangkan engsel kiri lebih lebar untuk menampung tumpukan panel saat ditutup. Responsif engsel ini luar biasa; ia terbuka dengan sedikit usaha, menawarkan keunggulan ergonomis dibandingkan pesaing seperti Huawei Mate XT dan Galaxy Z Fold 7 dengan sisi datar.

Kunci dari kemudahan penggunaan ini adalah tepi yang menonjol pada panel paling kanan, memberikan bibir yang jelas untuk membuka lipatan. Samsung bahkan menerapkan alarm otomatis yang memperingatkan pengguna jika perangkat tidak dilipat dengan benar, sehingga memastikan daya tahan jangka panjang.

Meminimalkan Lipatan, Memaksimalkan Ruang Layar

Dua engsel berarti dua lipatan layar, yang merupakan masalah umum pada perangkat lipat. Namun, Samsung telah membuat kemajuan signifikan dalam meminimalkan visibilitas lipatan. Lipatan Z TriFold hampir tidak terlihat saat disentuh, peningkatan nyata dibandingkan generasi sebelumnya dan pesaing seperti Mate XT dari Huawei.

Lipatan ini hampir tidak ada kecuali dilihat dari sudut yang ekstrim, sehingga tidak mengganggu sebagian besar pengguna bahkan dalam mode tablet.

Samsung vs. Huawei: Pengorbanan Desain

Samsung dan Huawei melakukan pendekatan terhadap desain trifold secara berbeda. Desain berbentuk Z dari Huawei menawarkan fleksibilitas yang lebih besar, sehingga perangkat ini dapat berfungsi sebagai ponsel cerdas, tablet mini (dengan satu sisi terbuka), dan tablet lengkap.

Samsung melewatkan mode tablet mini sepenuhnya. Z TriFold hanya dapat dilipat atau dibuka sepenuhnya, sehingga membatasi kegunaan langsungnya. Pertukaran ini mengutamakan ketahanan; Desain Samsung melindungi layar bagian dalam saat dilipat, tidak seperti layar Huawei yang terbuka. Meskipun hal ini membatasi fungsionalitas, hal ini dapat memperpanjang masa pakai perangkat, yang merupakan pertimbangan signifikan dalam hal harganya.

Pengoptimalan Perangkat Lunak dan Peluang yang Terlewatkan

Z TriFold menjalankan One UI 8 berbasis Android 16, sebuah peningkatan yang jelas dari perangkat lunak Huawei yang sudah ketinggalan zaman. Ini mendukung tiga jendela berdampingan, beberapa jendela pop-up, dan ruang kerja terpisah untuk multitasking yang efisien.

Namun, perangkat ini tidak memiliki penyangga internal atau dukungan aksesori magnetis (seperti MagSafe). Tanpa fitur-fitur ini, penggunaan Z TriFold sebagai tablet memerlukan casing atau dudukan eksternal yang berat. Dimasukkannya dukungan aksesori magnetik akan mengubah perangkat ini menjadi alternatif laptop dua-dalam-satu yang lebih serbaguna.

Kesimpulan

Meskipun ukurannya besar, Samsung Galaxy Z TriFold mewakili langkah maju yang menjanjikan dalam teknologi lipat. Pilihan desain yang cerdas, khususnya mekanisme engsel dan meminimalkan lipatan, mengatasi permasalahan utama. Meskipun kurangnya mode tablet mini dan dukungan aksesori magnetik merupakan kelemahannya, fokus pada daya tahan menjadi pembenaran bagi pengguna yang memprioritaskan kegunaan jangka panjang. Z TriFold menunjukkan bahwa masa depan ponsel lipat mungkin tidak hanya sekedar gimmick, namun lebih pada penyempurnaan praktis.