Bagi banyak orang dewasa saat ini, gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif (ADHD) pernah dianggap sebagai kondisi masa kanak-kanak. Namun, persepsi ini sedang berubah: sekitar setengah dari 15 juta orang dewasa Amerika yang didiagnosis dengan ADHD menerima diagnosis tersebut di masa dewasa. Tren ini menimbulkan pertanyaan kunci: apakah lebih banyak orang yang benar-benar mengidap ADHD, atau apakah kita lebih baik dalam mengidentifikasinya?
Proses diagnostiknya sendiri bisa jadi menantang dan menyebabkan penundaan. Laura Knouse, psikolog klinis di Universitas Richmond, ADHD didefinisikan sebagai kekurangan perhatian yang tidak sesuai dengan usia dan mengganggu, yang dapat berasal dari kondisi itu sendiri atau faktor lain yang mendasarinya. Meningkatnya diagnosis mendorong kita untuk melihat lebih dalam sejarah pemahaman kita dan faktor-faktor yang mendorong peningkatan ini.
Perspektif Sejarah
Ciri-ciri yang terkait dengan ADHD kemungkinan besar telah ada sepanjang sejarah manusia, namun pengakuan formal dimulai pada tahun 1775, dengan deskripsi kasus klinis pertama yang didokumentasikan oleh dokter Jerman Melchior Adam Weikard. Seiring berjalannya waktu, kondisi tersebut diamati secara independen di berbagai tempat, dan pemahamannya pun berkembang. Inklusi resmi pertama dalam sistem diagnostik AS terjadi pada tahun 1968 dengan nama “reaksi hiperkinetik masa kanak-kanak,” yang kemudian disempurnakan menjadi “gangguan defisit perhatian” ketika penelitian diperluas hingga mencakup proses kognitif.
Baru pada tahun 1990-an penyakit ADHD yang menetap hingga dewasa diterima secara luas, dengan penelitian yang sekarang menunjukkan sekitar 50% kasus berlanjut setelah masa kanak-kanak. Selama bertahun-tahun, asumsi yang ada adalah bahwa gejala akan berkurang seiring bertambahnya usia, namun hal ini terbukti tidak benar.
Penyebab dan Pengobatannya
ADHD memiliki komponen genetik yang kuat, dengan sekitar 80% variasi gejala diturunkan – sebanding dengan perbedaan tinggi badan manusia. Namun, faktor lingkungan secara signifikan mempengaruhi seberapa parah gejala yang mengganggu kehidupan sehari-hari. Pilihan pengobatannya mencakup stimulan seperti Adderall dan Ritalin, namun obat ini tidak berhasil untuk semua orang. Obat-obatan non-stimulan memang ada tetapi umumnya kurang efektif.
Pendekatan terapeutik yang paling berdampak bagi orang dewasa adalah terapi perilaku kognitif (CBT), yang memberikan keterampilan untuk mengelola kurangnya perhatian dan impulsif. Perawatan yang muncul seperti stimulasi magnetik transkranial cukup menjanjikan, namun memerlukan penelitian lebih lanjut. Sangat penting untuk mengandalkan sumber yang kredibel, seperti Pusat Sumber Daya Nasional Anak-anak dan Dewasa dengan ADHD (CHADD), untuk menghindari metode yang tidak terbukti.
Apakah Diagnosis Meningkat?
Pertanyaan apakah prevalensi ADHD benar-benar meningkat merupakan pertanyaan yang kompleks. Bukti saat ini tidak mengkonfirmasi adanya peningkatan luas pada ciri-ciri neurobiologis yang mendasarinya, namun terdapat perbedaan yang jelas dalam tingkat diagnosis. Populasi tertentu masih banyak yang kurang terdiagnosis dan kurang mendapat pengobatan, khususnya mereka yang memiliki akses terbatas terhadap layanan kesehatan. Ini berarti ADHD dapat *terdiagnosis secara berlebihan (karena tren media sosial) dan kurang terdiagnosis (di komunitas yang terpinggirkan) secara bersamaan.
Platform media sosial, seperti TikTok, telah meningkatkan kesadaran akan ADHD, namun keakuratan informasinya sangat bervariasi. Penelitian menunjukkan bahwa sekitar separuh konten terkait #ADHD di TikTok tidak akurat, sehingga sering kali mengaburkan batas antara pengalaman pribadi dan gejala klinis. Hal ini dapat menyebabkan perilaku normal menjadi terlalu patologis, namun hal ini juga dapat menjadi landasan yang berharga untuk melakukan advokasi. Para ahli perlu terlibat lebih aktif untuk memastikan informasi yang akurat menjangkau khalayak yang lebih luas.
Meningkatnya diagnosis ADHD mencerminkan interaksi yang kompleks antara peningkatan kesadaran, peningkatan alat diagnostik, dan kurangnya diagnosis yang terus berlanjut pada populasi tertentu. Informasi yang akurat sangat penting, dan para ahli harus mengambil tindakan untuk memastikan diskusi media sosial didasarkan pada bukti ilmiah.
Percakapan seputar ADHD terus berkembang, namun memahami sejarah, penyebab, dan pengobatannya tetap penting bagi individu yang mencari bantuan dan profesional yang menghadapi kondisi yang semakin lazim ini.
































