Macron Mengusulkan “Hari Offline” Bulanan untuk Memerangi Gangguan Digital di Kalangan Remaja

13

Presiden Prancis Emmanuel Macron telah mengusulkan inisiatif baru untuk membantu kaum muda mendapatkan kembali perhatian mereka dari dunia digital: satu “Hari Offline” wajib setiap bulan. Berbicara kepada sekitar 350 siswa di Kota Internasional Bahasa Prancis, Macron berpendapat bahwa lanskap digital saat ini telah menjadi “hutan” yang secara aktif menghilangkan kemampuan anak-anak untuk fokus.

Dorongan untuk Batasan Digital

Usulan Presiden tersebut merupakan bagian dari gerakan yang lebih luas dan intensif di Perancis untuk mengatur bagaimana anak-anak berinteraksi dengan teknologi. Visi Macron meliputi:

  • Larangan media sosial bagi mereka yang berusia di bawah 15 tahun: Ditujukan untuk melindungi tahap perkembangan dari sifat algoritma yang membuat ketagihan.
  • Hari Offline Bulanan: Mendorong siswa untuk memutuskan sambungan dari layar untuk fokus pada membaca, teater, atau aktivitas offline lainnya.
  • Perlindungan Anak Usia Dini: Mengikuti rekomendasi para ahli untuk menghilangkan semua waktu layar bagi anak-anak di bawah usia tiga tahun.

“Kita perlu memperlambat dan membantu Anda menjadi dewasa, dan yang terpenting, menjadi warga negara,” kata Macron, menekankan bahwa keterlibatan digital mungkin menghambat perkembangan keterlibatan masyarakat yang penting.

Rintangan Legislatif dan Gesekan Politik

Meskipun visi Presiden sudah jelas, mewujudkan ide-ide tersebut menjadi undang-undang terbukti rumit. Perancis saat ini sedang menghadapi tarik-menarik legislatif antara dua majelis Parlemen:

  1. Senat: Telah menyetujui rencana untuk membatasi media sosial bagi mereka yang berusia di bawah 15 tahun.
  2. Majelis Nasional: Telah mengusulkan mekanisme yang berbeda, termasuk penghapusan akun wajib bagi anak di bawah umur dan larangan total terhadap ponsel di sekolah menengah.

Karena kedua versi RUU ini berbeda secara signifikan, para pembuat undang-undang kini harus melakukan negosiasi untuk mencapai kompromi. Gesekan politik ini menunjukkan bahwa meskipun niatnya tinggi, penerapan sebenarnya dari pembatasan ini mungkin tertunda.

Tren Global yang Berkembang

Perancis tidak bertindak sendirian. Terdapat peningkatan gelombang “proteksionisme digital” di Eropa dan dunia, didorong oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap kesehatan mental dan perkembangan kognitif pada anak di bawah umur.

  • Australia baru-baru ini menetapkan preseden global dengan menjadi negara pertama yang melarang media sosial untuk anak di bawah 16 tahun.
  • Inggris juga mengalami tekanan serupa; Perdana Menteri Keir Starmer baru-baru ini mengeluarkan tantangan langsung kepada raksasa teknologi seperti Meta, TikTok, dan X, menuntut mereka bertanggung jawab atas keselamatan anak daripada menawarkan “perubahan” yang dangkal.

Mengapa Ini Penting

Pergeseran ini mewakili perubahan mendasar dalam cara pemerintah memandang internet. Alih-alih memperlakukan media sosial sebagai alat yang netral, para pembuat kebijakan justru semakin memandangnya sebagai tantangan kesehatan masyarakat. Perdebatannya tidak lagi hanya mengenai moderasi konten, namun mengenai hak mendasar anak-anak untuk mengembangkan keterampilan kognitif—seperti membaca mendalam dan perhatian berkelanjutan—tanpa gangguan terus-menerus pada stimulasi algoritmik.


Kesimpulan
Ketika negara-negara bergerak menuju batasan usia dan jeda digital yang lebih ketat, tujuannya adalah untuk melakukan transisi dari kondisi konektivitas yang konstan ke kondisi keterlibatan yang disengaja. Keberhasilan langkah-langkah ini akan bergantung pada apakah pemerintah berhasil menekan perusahaan teknologi untuk memprioritaskan keselamatan anak dibandingkan keterlibatan platform.